16 Oktober 2012

Cruelty Beauty


Kosmetik seringkali menjadi senjata andalan agar tampil cantik dan menarik. Namun tak banyak yang bisa diketahui orang awam saat membaca bahan yang tertulis dalam label produk kosmetik.

Ada beberapa bahan yang dianggap menjijikkan namun sudah menjadi bagian perawatan kecantikan harian antara lain krim pelembab, lipstik, bedak hingga produk perawatan rambut. Mau tahu apa saja? Oddee memberi bocorannya.

Parfum mahal berisi kotoran dan muntah Paus
Bahan dari paus yang dimaksud bisa kotoran sisa metabolisme maupun muntahnya. Ambergris atau lilin kuning merupakan zat padat yang dihasilkan  usus ikan paus Sperm untuk melindungi mereka dari benda tajam yang kadang kadang ikut tertelan. Ambergris sering disebut emas laut dengan harga bisa mencapai US$ 10 ribu untuk satu pon.

Bau unik ambergris sering digunakan dalam parfum mahal, dan kadang diolah menjadi hidangan lezat. 



Lipstik berisi serbuk kumbang parasit
Serangga Cochineal pemakan tanaman kaktus merah di Amerika Tengah dan Selatan. Dari situlah warna merah yang kuat dihasilkan. Kumbang ini telah digunakan selama berabad abad dalam lipstik, pewarna es krim, yogurt dan pemulas mata. Bahkan, Starbucks mengaku menggunakan pewarna cochineal di beberapa minuman mereka.



Sisik ikan di maskara dan kuteks

Anggapan bahwa maskara mengandung guano kelelawar ternyata keliru. Nyatanya, kosmetik satu ini mengandung sisik ikan. Sisik ikan juga ditemukan dalam produk-produk mandi, produk pembersih, wewangian, kondisioner rambut, lipstik dan produk perawatan kulit.



Bangkai hewan di lipstik, pemulas pipi dan sabun
Tallow adalah bahan yang umum dalam banyak produk, termasuk riasan mata, lipstik, pelembab dan alas bedak, shampo, sabun cukur, dan produk perawatan kulit. Bahan ini berasal dari lemak hewan dari pemotongan hewan, peternakan dan bahkan dari hewan liar yang mati. 



Sperma banteng untuk produk rambut
Kandungan protein yang tinggi, menjadikan sperma banteng menjadi bahan populer dalam produk rambut, terutama untuk rambut kering atau rusak. Campuran sperma banteng dengan tanaman Katera salah satu perawatan di salon megah, yang kerap disebut "Viagra rambut".


Dinamit dalam deodoran dan exfoliator
Diatomaceous earth (DE) atau juga disebut bubuk putih merupakan zat abratif yang digunakan sebagai pengikis kulit mati dalam exfoliators ringan. Bahan ini juga ada dalam pasta gigi alami, dan deodoran.


Siput di Pelembab
Cairan siput adalah salah satu bahan utama dalam pelembab terkenal. Asam glikolat dan elastin pada sekresi siput melindungi kulit dari luka, bakteri, dan sinar UV. Cairan ini juga sumber protein untuk menghilangkan sel-sel mati dan meregenerasi kulit dari bekas luka dan jerawat.



Hati hiu di lipbalm dan sunscreen
Squalane adalah minyak yang dihasilkan secara alami oleh semua tumbuhan dan hewan termasuk manusia. Sumber skualan yang diekstraksi dari hati ikan hiu menjadi minyak kerap ditemukan dalam lipbalm, tabir surya, dan pelembab. 



Kulit bayi dalam Moisturizer
SkinMedica mengklaim menggunakan sel-sel yang berasal dari kulit bayi manusia (NouriCel-MD) dalam produk anti penuaan revolusioner buatannya. Produk ini merupakan kombinasi dari kolagen larut, antioksidan, faktor penumbuh alami, dan protein. Bahan diklaim memperlambat proses penuaan dini dan mendorong pertumbuhan kulit baru. 



Lilin Wol Domba dalam krim cukur
Pernah mendengar Lanolin? Anda mungkin sering mengoleskannya pada tubuh dalam bentuk losion atau krim cukur. Faktanya, lanolin dikumpulkan dari bulu domba dan digunakan dalam suplemen vitamin sebagai agen pengilap tablet suplemen.

Lanolin umumnya digunakan meredakan sakit pada puting ibu menyusui sekaligus efektif membuat sarung tangan bisbol lebih kenyal. Perusahan kosmetik Olay menggunakan Lanolin dalam produk mereka.

15 Oktober 2012

Hell Colored Blue: EARTH!

Neraka Berwarna Biru: BUMI!

Dari luar angkasa, bumi terlihat bagaikan sebuah planet anggun berwarna biru, sendirian...mengambang di antara planet-planet lain, seolah menawarkan kedamaian dan kesejahteraan. Hmmm... Siapa sangka, dalam kedamaian birunya, ternyata bumi selalu bergejolak. Gejolak energi alam mahadahsyat terus membentuk bumi agar menjadi tempat hidup bagi seluruh makhluk. Bumi adalah setitik debu di alam jagad raya yang menawarkan tempat berbagi bagi kehidupan. Bumi mestinya dapat menjadi pantulan citra paradise yang selalu hadir dalam imajinasi semua bangsa: tempat yang indah, sejahtera, dan tanpa derita. ---Tanpa bermaksud SARA dan mendiskriminasi, karena dulu saya pernah sekolah di salah satu sekolah Katolik, sedikitnya saya tau tentang pelajaran agama Katoliik karena saya dipaksakan untuk mengikuti pelajarannya di dalam kelas walopun saya beda agama---(Bahkan setiap saat digumamkan dalam doa Bapa Kami oleh pemeluk Kristiani: “Datanglah kerajaan-Mu......bla bla bla”. Mengapa kita tidak memberi kesempatan kepada Tuhan untuk menjadikan diri kita masing-masing pembuka jalan bagi kerajaan-Nya???? Sekarang juga? Dengan menjauhkan segala bentuk kekejaman dai perilaku kita??? Hmmmh... Aneh bukan?). Wellyea... Religion is a fraud n poison!



Planet Bumi berwarna biru terlihat cantik, sepi di ruang angkasa. Di sanalah segala drama kehidupan terjadi: sedih-gembira, sakit-sehat, benci-cinta. Bumi adalah planet sebesar debu di angkasa yang seharusnya damai dan menyenagkan. Namun, bagi sebagian makhluk hidup, planet ini adalah mimpi paling buruk. Mereka, yakni para hewan ternak, sengaja dihidupkan dan akhirnya sengaja dibunuh oleh spesies dominan: MANUSIA!







Pada  saat kelahirannya bumi terlihat mengerikan. Badai gas, semburan lahar gunung muda, hujan meteor, dan gempa dahsyat (dalam pelajaran Geografi yang saya dapat waktu sekolah dulu) menjadi pameran besar kerja sistem energi pembentuk bumi. Ketika kemudian semua menjadi lebih tenang dan seimbang, sistem energi itu terus bekerja sebagai pendukung kelangsungan “hidup” bumi.

Tetapi, energi alam yang membentuk kehidupan itu telah dikacaukan oleh makhluk yang tidak pernah tahu berterima kasih kepada alam. Spesies yang memiliki nama populer “m-a-n-u-s-i-a”, yang memiliki sifat spesiesis, memandang dirinya sebagai spesies paling unggul dan berhak menguasai spesies lain, duduk nyaman di tribun antroposentrisme dan menyaksikan penderitaan spesies lain--tanpa peduli, konstruksi berpikir manusia inilah yang mendeskripsikan apa yang disebut Spesiesisme. Sama halnya dengan seksisme, rasisme, homofobik yang mendefinisikan sikap pendiskriminasian dan sistem dominasi atas individu terhadap individu lainnya. Spesies bernama manusia, itulah kita, gemar menulis sejarahnya sendiri, penuh dengan kesombongan dan kecongkakan. Kegemaran yang paling disukai adalah “melepaskan energi negatif”; menebarkan rasa sakit, ketakutan, penderitaan, penindasan, eksploitasi di antara spesies sendiri dan lebih-lebih kepada spesies lain. Manusia adalah makhluk yang lupa (karena seharusnya dia dapat mengingat) bahwa bumi dapt terus ada tanpa manusia, tetapi manusia tidak dapat ada tanpa bumi. Bumi tidak memerlukan manusia, tetapi manusia memerlukan bumi.

Menurut Peter Singer dalam bukunya Animal Liberation manusia menentukan perasaan makhluk lain dengan kacamata manusia. Manusia dapat mengatakan bahwa elang memiliki pandangan yang lebih tajam daripada manusia, anjing mempunyai penciuman yang lebih tajam daripada manusia, dan sebagainya, tapi mengabaikan kemungkinan bahwa hewan dapat mengembangkan saraf peraba yang lebih sensitive daripada milik manusia, sehingga mereka dapat merasakan sakit yang lebih hebat daripada manusia. Demikian juga, manusia menuntut hewan memiliki bahasa dan pikiran yang sama agar dapat hidup sederajat. Penelitian menunjukkan bahwa babi memiliki kecerdasan setara dengan anak manusia berumur tiga tahun dan dapat hidup mandiri. Tapi, hanya karena tidak dapat berbicara dengan bahasa manusia, babi boleh dibunuh. Sebaliknya, betapa pun tak berdayanya seorang manusia (cacat mental, tidak dapat mandiri), kita tidak mungkin mencabut hidupnya karena dia adalah anak manusia!!

Kita dapat mengabaikan kengerian neraka bumi pada saat awal pembentukannya karena kita memang belum ada. Ngeri belum terdefinisikan. Sakit belum dikenal. Namun, justru ketika bumi siap mewadahi kehidupan, termasuk kehidupan makhluk-makhluk berdaging dan bersaraf, saat itulah energy ketakutan, kengerian, dan kesakitan menemukan bentuknya. Para makhluk saling menyakiti dan membunuh. Manusia, yang secara biologis termasuk binatang, mengembangkan cara berpikir yang lebih maju daripada binatang lain, kemajuan yang menjadi malapetaka besar bagi makhluk lain, termasuk perang, perebutan kekuasaan, uang yang berujung pada kesakitan, kengerian dan kematian. Spesies manusia adalah satu-satunya binatang yang dengan sadar melakukan itu semua dan dengan sadar mengeksploitasi spesies lain (dan bahkan spesiesnya sendiri), dengan sadar pula mengeksploitasi hewan demi kenikmatan lidah mereka, bukan untuk bertahan hidup. Selera manusia yang tidak alami nyata-nyata telah merusak system energy bumi, menyebabkan pemborosan dan kerusakan alam.

Mari kita bayangkan melihat bumi dari ruang angkasa: planet biru yang kesepian, yang di dalamnya penuh dengan energy ketakutan; planet neraka berwarna biru. Planet tempat hewan dipaksa lahir di peternakan dan dipaksa mati di rumah jagal/ RPH. Kelahiran yang seharusnya berisi energy keriangan hidup diubah menjadi kematian paksa yang menebarkan energi kesedihan, dendam, dan kebencian. Planet neraka biru yang mungkin menyebabkan penyesalan bagi para hewan: mengapa mereka disiksa, dipaksa mampir ke sini? Dan, para hewan ternak yang lahir sebagai pemakan tumbuhan (herbivora)pun diajari, mmmmh….dipaksa untuk menjadi pemakan tepung daging, tulang, dan bulu sesamanya. (75.000 ton tepung daging, tulang, dan bulu impor untuk pakan ternak yang terhambat di pelabuhan Indonesia berpotensi merugikan 112,5 milyar rupiah per bulan menurut Kompas (14 Juni 2008)di artikel “Bahan Baku Pakan Tertahan di Gudang” dan “Lampu Kuning untuk Perunggasan Nasional” Kompas (16 Juli 2008).)

Sebagian dari kita mungkin beranggapan bahwa masalah “bumi menjadi neraka bagi spesies selain manusia” tidak perlu dibahas dan dibesar-besarkan. Namun, bagaimana dengan data yang menyebutkan bahwa rata-rata setiap dua-tiga detik satu anak di dunia meninggal karena kelaparan? (menurut www.eatveg.com). Bagaimana  dengan data yang menyebutkan bahwa 3,5 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal setiap tahun akibat kekurangan gizi? Lebih dari tiga perempatnya terjadi di 20 negara miskin. Di Jawa Tengah, 15.980 anak balita menderita gizi buruk (www.kompas.com; 16 Maret 2008). Mereka sepenuhnya berhak bertanya, mengapa mereka dilahirkan,. Jika data di atas disandingkan dengan data bahwa pada tahun 2001 McDonald (dalam film dokumenter Super Size Me)menghabiskan dana 1,4 milyar dolar AS (setara dengan 13 triliun rupiah) hanya untuk promosi. Maka sekali lagi para anak miskin memiliki hak sepenuhnya untuk bertanya, dunia macam apa yang harus mereka singgahi ini. Saat ini di dunia diperkirakan ada 1,1 milyar orang yang kegemukan (berlebihan makan) dan 1,1 milyar orang kurus kering (kurang gizi)—(www.worldwatch.org/press/news/2000 /03/04). Kasus obesitas tidak dimonopoli oleh negara maju, namun juga ditemukan di Negara berkembang tempat junk food outlets merajalela.

Selera akan kenikmatan membutakan mata-pikiran dan mata-hati manusia, menjadikan manusia boros energy dan merusak alam. Manusia sibuk mencari pembenaran bagi tindakan mereka yang tak masuk akal dalam memakai energy dan merusak ekosistem. Demi melanggengkan selera akan kenikmatan, manusia rela mengkhianati logika mereka sendiri; kemampuan berlogika yang dengan congkak mereka yakini mendiskriminasi spesiesnya dengan spesies lain. --Karel

2 September 2012

Perubahan Perspektif dan Sikap Progresif

-->
Setiap orang mempunyai perspektif dalam melihat sebuah realita. Perspektif dalam diri seseorang dipupuk melalui tahap referensi pengetahuan yang bisa didapat dari mana saja. Dan perspektif itulah yang mempengaruhi tingkah-laku seseorang dalam menjalani hidupnya sehari-hari.
Seiring perjalanan waktu, seseorang akan semakin banyak mendapatkan informasi dari berbagai sumber yang beragam, yang kemudian juga akan memperkaya pengetahuannya. Semakin banyak pengetahuan dalam diri seseorang, akan semakin luas pula orang tersebut dalam melihat sebuah realita sosial.
Tahapan-tahapan yang dilalui oleh manusia bisa melalui banyak cara. Melalui sumber media (buku, tv, majalah, dll) ataupun beberapa momen yang membantu proses penyadaran orang tersebut untuk bereaksi dan mengambil sikap baru.
Seseorang yang tidak memahami perspektif Vegetarianisme/Veganisme seringkali berpikiran skeptis, negatif, atau justru memperolok prinsip dan para penganut Vegetarian/Vegan. Ini bisa disebabkan banyak faktor. Bisa jadi orang tersebut tidak mempunyai teman yang menganut Vegetarian/Vegan. Atau orang itu tidak atau belum melihat beberapa kenyataan yang bisa dipetik dari gaya hidup Vegetarian/vegan.
Dari sinilah perlunya pengayaan pengetahuan diri untuk melihat sebuah realita di sekitar kita. Banyak bukti nyata bahwa gaya hidup Vegetarian/Vegan membawa kebaikan. Bahkan bisa dibilang hampir semua dokter akan bilang bahwa daging itu jahat. Dari sudut pandang yang lebih spesifik, gaya hiudp Vegetarian/Vegan berkontribusi besar (atau bahkan besar sekali) terhadap usaha dunia meminimalisir global warming (dengan vervegetarian/bervegan kita akan mengurangi proses pembuangan limbah di peternakan yang merupakan ‘sumbangan’ terbesar penghasil emisi gas karbondioksida yang merupakan penyebab utama global warming). Dan secara naluriah, mungkin manusia akan benar-benar tergugah apabila melihat kenyataan (atau tepatnya kesadisan) yang terjadi sebelum daging dihidangkan menjadi sebuah menu makanan.
Semua pengetahuan tentang Vegetarian/Vegan tersebut adalah rasional. Dan rasional berarti kenyataan. Dan pengetahuan itulah yang akan menggugah kesadaran manusia dalam memahami gaya hidup Vegetarian/Vegan yang pada gilirannya akan merubah perspektifnya dan mengambil sikap tegas untuk memperlakukan dirinya sendiri dengan baik dan tentunya memperlakukan bumi dan hewan dengan baik pula. Jadi perubahan perspektif dan sikap untuk sebuah progresifitas adalah baik, kan?--karel

Realitas Manusia Sebagai Makhluk BUKAN Pemakan Daging

Sekarang ini banyak sekali jenis-jenis makanan yang berasal dari daging hewan yang dibuat sedemikian rupa dengan nama-namanya yang beraneka ragam, sampai-sampai banyak yang mungkin kurang familiar. Mulai dari yang terkenal seperti ‘opor ayam’ sampai model menu luar negeri (jenis masakan Eropa atau Jepang). Dari apa yang ditangkap ketika orang-orang melahap beberapa makanan tersebut, mereka rata-rata berpendapat bahwa makanan tersebut enak, atau bahkan lezat. Tetapi apakah mereka sadar darimanakah asal hidangan tersebut? Dan apakah mereka sadar bahwa kelezatan yang mereka dapat adalah hasil dari penindasan kehidupan yang lain? Dan yang lebih terpenting lagi, apakah mereka sadar bahwa apa yang sebenarnya mereka makan adalah mayat / bangkai dalam 'bentuk lainnya'?

Setelah sebelumnya seseorang pada kehidupan sehari-hari bertingkah-laku berdasarkan pada moral, agama, dan etika, yang tentunya melawan segala bentuk penindasan, kekerasan, dan kerakusan, bagaimana mungkin untuk kemudian seseorang bisa memberi nama bagian-bagian dari bangkai hewan sebagai daging dan makanan yang lezat, yang sebelumnya tentunya melalui proses yang sangat menakutkan bagi setiap makhluk hidup manapun yang dapat berpikir dan mempunyai system syaraf. Suatu proses sebelum ‘makanan lezat yang berasal dari mayat’ tersebut dihidangkan; hewan ditarik, diseret-seret, dipukuli agar menurut seperti apa yang diperintahkan si penjagal, sampai akhirnya ditebaslah lehernya untuk dibunuh. Pekikan, raungan, jeritan, maupun rontaan hewan tersebut merupakan sebuah tanda bahwa dia tidak mau dibunuh, apapun alasannya.

Ketika manusia berhubungan dengan moralitas, etika, atau nilai-nilai keagamaan, adakah hal yang hilang ketika kerakusan manusia menyelimuti akal sehat dan perasaan terdalamnya sebagai sebuah makhluk yang bisa berpikir paling sempurna, dan (katanya) berperasaan? Apakah anda rela semua itu dikotori dengan darah dan raungan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan diri mereka dikorbankan untuk dimakan oleh manusia. Jangan pernah berbohong bahwa bumi ini tidak mampu menghidupi manusia. Banyak sekali bahan makanan lain yang bisa dikonsumsi tanpa melibatkan pembunuhan hewan dan tentunya lebih menyehatkan. Seharusnya manusia merasa malu ketika memulai memakan hidangannya dan diketahui di atas piringnya selain terdapat makanan lezat ‘yang sebenarnya’ seperti bayam, selada, wortel, tempe, dan tahu, tetapi ternyata terkotori oleh sebuah mayat yang juga berada satu piring di dekat makanan-makanan lezat ‘yang sebenarnya’ tersebut.

Bumi menyediakan banyak sekali bahan-bahan makanan yang bisa dikonsumsi oleh manusia dan yang tidak melibatkan pembunuhan pada hewan. Dan hal itu sebenarnya disadari oleh manusia. Manusia sering menyebut bahwa singa, macan, ular, beruang, adalah makhluk ganas, tetapi sebenarnya diri manusialah yang ganas. Bahkan dari sisi kekejaman, manusia sama kejamnya atau bahkan banyak manusia yang lebih kejam dibandingkan hewan-hewan tersebut. Apa yang dilakukan oleh hewan-hewan dalam pembunuhan sesamanya adalah karena alasan untuk bertahan hidup, dan karena secara alamiah memang daginglah makanan dari hewan-hewan
carnivore tersebut. Tetapi tidak bagi manusia. Manusia dilahirkan tidak untuk memakan daging dilihat dari komposisi gigi, maupun anatomi lainnya, seperti jenis dan panjang usus. Akan tetapi apabila manusia memang bersikeras menganggap bahwa mereka dilahirkan secara alamiah untuk memakan daging. Maka bunuhlah hewan-hewan tersebut dengan tanpa senjata. Jatuhkan pisau, pedang, belati, panah, atau kampakmu di atas tanah. Dan mulailah berburu hewan dengan tangan kosong. Tetapi apabila seorang manusia takut melakukan hal itu, tidak berani mengambil nyawa hewan tersebut secara paksa, dan hanya diam saja menunggu hewan-hewan tersebut dijagal untuk menjadi ‘mayat’ yang siap masak, lalu mengapa manusia melawan alam dengan makan makhluk bernyawa tersebut?

The Animal Liberation Guidelines

The groups of Animal Liberation carries out direct action against animal abuse in the form of rescuing animals and causing financial loss to animal exploiters, usually through the damage and destruction of property.
The groups of Animal Liberation short-term aim is to save as many animals as possible and directly disrupt the practice of animal abuse. Their long term aim is to end all animal suffering by forcing animal abuse companies out of business.
It is a nonviolent campaign, activists taking all precautions not to harm any animal (human or otherwise).
Because the groups Animal Liberation actions may be against the law, activists work anonymously, either in small groups or individually, and do not have any centralized organization or coordination.
The groups of Animal Liberation consists of small autonomous groups of people all over the world who carry out direct action according to the guidelines. Any group of people who are vegetarians or vegans and who carry out actions according to ANIMAL LIBERATION guidelines have the right to regard themselves as part of the theirs; for example A.L.F, E.L.F, EARTH FIRST!, BLACK BLOC / BLACK BLOC, etc.
 
The Animal Liberation guidelines are:
1. TO liberate animals from places of abuse, i.e. laboratories, factory farms, fur farms, etc, and place them in good homes where they may live out their natural lives, free from suffering.
2. TO inflict economic damage to those who profit from the misery and exploitation of animals.
3. TO reveal the horror and atrocities committed against animals behind locked doors, by performing non-violent direct actions and liberations.
4. TO take all necessary precautions against harming any animal, human and non-human.
5. To analyze the ramifications of any proposed action and never apply generalizations (e.g. all 'blank' are evil) when specific information is available.

A 12 Step Program to Recover from Animal Use, Exploitation, and Destruction

Dedicated to the premise of the animal rights movement -- that only basic legal rights can make possible humane treatment of the vast majority of nonhuman animals -- A 12-Step Program to Recover from Animal Use, Exploitation, and Destruction summarizes practical ways to move society beyond the animal welfare systems, that have failed to eliminate the present horrible exploitation, toward the rights the animals need.


1. Nonhuman animals have the moral rights, which should be established as basic legal rights, not to be used by human beings, not to be property, and to live according to their natures. Animals should never be subjected to human-inflicted suffering or interference.

2. Insist on basic legal rights -- not secondary rights without basic ones already in place -- as the primary goal, with secondary rights and enforcement mechanisms to follow achievement of that goal.

3. Do not confuse "helping animals," "improving conditions" for exploited animals, or other animal-welfare measures with animal rights objectives or goals, since animal rights by definition means getting to where nonhuman animals don't need human help because human beings are not using or interfering with them.

4. Where animals are known to be suffering due to the failure of the animal-welfare system to protect them from human beings, demand that authorities act to remedy the situation and educate about the inherent inability of the welfare system to protect the animals.

5. Educate in part by debunking claims that animal rights is anti-human and by demonstrating that animal rights is what humans need most, just as women's rights benefit men and civil rights benefit dominant as well as oppressed groups.

6. Communicate that humans are deserving of animal rights that do not currently exist or are not enforced, and that animal exploitation, oppression and abuse are original sources of similar mistreatment of humans. Animal rights should help expand, not diminish, human rights, except that human beings will no longer see themselves as having the right to use or interfere with other animals.

7. Educate people about the way capitalism and politics work, to emphasize that animal rights is a matter of justice rather than personal traits such as compassion, caring, or empathy. This is not to dismiss those traits as unimportant -- they're crucial to all interactions among human beings and between humans and other sentient beings -- but to heighten understanding of the important difference between the personal and the political, the incidental and the systemic, feelings and principles. 

Compassion is natural except in a very small percentage of people. Merely acting on compassion is insufficient to change institutions, laws, and societies. Injustice isn't due to individual people's lack of compassion or empathy; it is due to strong incentives to overcome those positive traits.

8. Campaign to change practices, policies, regulations, and laws regarding government agencies and institutions that promote and/or support animal exploitation with public funds.
Current examples include efforts to reform the School Lunch Program; to end the teaching of "animal science" at our land-grant universities; and to end public funding of animal experimentation. Additional possibilities: work to end subsidies to the feed-crop, flesh, milk and egg industries; to end county extensions -- direct service to the flesh, milk and egg industries; to remove promotions of flesh, milk and eggs from county extension home-economics presentations; to end local, county, state and federal government purchases of and reimbursements for flesh, milk and eggs and cleaning products tested on animals; and more.

9. Work to eliminate the public-relations efforts of government agencies and other publicly funded and subsidized entities (usually on behalf of private industry at public expense) to maintain and promote the flesh, milk, and egg industries.
Through their supporters, the flesh, dairy and egg industries maintain the human-supremacist / speciesist / animal-exploitation status quo through subordination of up-to-date knowledge to popular false beliefs (social fictions), as when they promote false notions that human beings are natural omnivores, that Homo sapiens evolved as hunters, that flesh, milk and eggs are needed in the human diet or are "naturally" consumed by humans.

10. Demand in all circumstances that public entities adhere to the principle of equal consideration of  equal interests by strictly enforcing Constitutional guarantees, open-records and open-meetings laws and by relying on substantive empirical evidence for decision-making when such evidence conflicts with what is popular or what is demanded by elites.
Since equal consideration of equal interests is basic to animal rights and to the rule of law by which the United States purports to govern itself but has remained subordinate to might-makes-right in the economic, political and legal systems, making equal consideration of equal interests a top priority in all matters will help direct society toward equal consideration of all sentient beings' interests and away from the current human-nonhuman relationship guided by might-makes-right.

11. Define as victories, meaningful interim results, and achievable objectives education as to what animal rights is and animal rights' enormous benefits to human beings.


12. Have faith that small numbers of people can bring about fundamental change; do not be overly concerned with popularity or the early lack of popularity of the animal rights message.

Too much emphasis on popularity and support early on was a key factor in the declared animal rights movement's reverting to animal welfare, where its strategies, tactics, and language remain for the most part today.
For further information...